no idea..what should i do?
Apa dampak inflasi terhadap pertumbuhan kredit perbankan yang dipatok Bank Indonesia (BI) 22–23 persen di bawah target 2010, yakni 22-24 persen?
Inflasi merangkak dari 6,22 persen (year on year/yoy) per Agustus 2010 menjadi 6,44 persen (yoy) per September 2010. Untunglah inflasi lalu merosot menjadi 5,80 persen dan 5,67 persen per September dan Oktober 2010.
Namun, inflasi kembali meningkat menjadi 6,33 persen dan 6,96 persen per November dan Desember 2010. Realisasi inflasi 6,96 persen sungguh melewati target pemerintah 5,3 persen pada APBN-P 2010 dan target BI 5 persen dengan plus minus satu persen.
Apa penyebab inflasi? Badan Pusat Statistik (BPS) menyatakan, tekanan inflasi 2010 terutama diakibatkan gejolak harga pangan (volatile food) dan harga yang diatur pemerintah (administered price).
Dari inflasi 6,96 persen per Desember 2010, sektor bahan makanan menyumbang 3,5 persen, sektor makanan 1,23 persen, serta sektor perumahan air dan listrik 1,01 persen. Harga bahan pangan seperti beras, cabai, dan minyak goreng juga menjadi pemicu utama inflasi akhir 2010.
Pasti ancaman inflasi tersebut membuat BI makin waspada mengingat hal itu bisa mengganggu pencapaian target pertumbuhan kredit. Lantas, upaya apa saja yang telah dilakukan BI?
Pada 29 Desember 2010, BI meluncurkan 23 kebijakan antara lain kenaikan giro wajib minimum (GWM) valuta asing (valas) menyusul kenaikan GWM rupiah. Dengan ungkapan lebih jernih, kenaikan GWM tersebut bertujuan mengerem laju inflasi dan spekulasi valas. Langkah ini rasanya mencontoh China dalam menekan laju inflasi dengan mengubah-ubah GWM.
Sebagai informasi, China menaikkan GWM dari 17,5 persen menjadi 18 persen efektif 29 November 2010. Jauh sebelumnya pada 3 September 2010, BI menerbitkan kebijakan GWM atas dasar loan to deposit ratio (LDR) 78-100 persen.
Harmonisasi antara GWM dan LDR jelas bertujuan mencapai target pertumbuhan kredit 22–24 persen pada 2010. Benar juga target tercapai 23,79 persen (yoy) dan 21,86 persen sepanjang Januari-Desember 2010 (year to date/ytd). Kebijakan GWM itu meliputi tiga hal.
Pertama, GWM Primer dalam rupiah melejit dari lima persen menjadi delapan persen dari DPK rupiah efektif 1 November 2010. Kenaikan GWM Primer itu menyerap likuiditas Rp60,3 triliun di pasar keuangan karena bank nasional harus membayar kenaikan GWM Primer.
Kedua, GWM Sekunder dalam rupiah tetap 2,5 persen dari DPK rupiah. Ketiga, GWM-LDR dengan kisaran 78–100 persen efektif 1 Maret 2011. Kebijakan paling anyar lahir di penghujung 2010 antara lain kenaikan GWM valas yang meliputi dua tahap. Pertama, GWM valas melesat dari satu persen menjadi lima persen dari DPK valas efektif 1 Maret 2011 untuk menyerap dana USD2-2,5 miliar.
Kemudian, GWM valas kian menebal dari 5 persen menjadi 8 persen dari DPK valas per 1 Juni 2011 untuk menyerap dana USD3 miliar. Sudah barang tentu ancaman inflasi 7–8 persen itu bakal berdampak pada pertumbuhan kredit perbankan 2011.
Dampak pertama, mengangkat BI Rate. Jangan lalai, peningkatan harga minyak dunia bisa menyulut tingkat inflasi lebih tinggi lagi. Pada akhir 2010, harga minyak mentah di beberapa bursa komoditas dunia ditutup di kisaran USD91,38 hingga USD94,30/barel.
Inflasi yang membubung tinggi tentu akan mendorong peningkatan BI Rate yang kini tetap bertahan 6,5 persen sejak Agustus 2009. Diprediksi paling cepat kuartal II 2011,BI Rate akan naik 25–50 basis poin (bps) atau 0,25–0,50 persen untuk menuju tujuh persen. Minimal ada dua syarat utama untuk mengangkat BI Rate. Pertama, inflasi bergerak liar disebabkan faktor tingginya permintaan (demand).
Tegasnya, bukan oleh pasokan (supply), misalnya, pasokan beras yang tidak lancar karena buruknya iklim atau bencana alam. Kedua, kurs rupiah oleng terhadap dolar Amerika Serikat. Dua indikator itu merupakan faktor pendorong (push factor) terciptanya peningkatan BI Rate.
Dampak selanjutnya, inflasi berpotensi mengerek bunga kredit. Rumusnya, ketika BI Rate merangkak naik pelan, tapi pasti, bunga kredit dicemaskan ikut terkerek. Ditambah pula kenaikan GWM rupiah dan valas serta penalti karena belum mencapai LDR batas bawah 78 persen yang sungguh menyedot dana bank nasional.
Artinya,beban bertambah berat sehingga modal pun tergerus. Hal itu membuat biaya dana (cost of loanable fund) meningkat tajam yang mengakibatkan meloncatnya bunga kredit. Sebaliknya, hal ini merupakan kenaikan biaya modal (cost of capital) bagi sektor riil untuk menikmati kredit perbankan. Kenaikan bunga kredit tentu akan memasung ekspansi kredit itu sendiri.
Kondisi itu akan memangkas pertumbuhan kredit, terutama valas mengingat kenaikan GWM valas dari satu persen menjadi delapan persen meski bertahap. Padahal sepanjang 2010, kredit valas tumbuh amat subur 23,31 persen dari Rp198,46 triliun per Oktober 2009 menjadi Rp244,73 triliun per Oktober 2010.
Demikian pula Dana Pihak Ketiga (DPK) yang tumbuh 15,81 persen dari Rp298,15 triliun menjadi Rp345,29 triliun. Dampak lainnya, membelenggu target pertumbuhan kredit.
Sekiranya banyak bank nasional terlebih papan bawah merasa sesak napas karena modalnya terdesak, ekspansi kredit akan tertatih-tatih. Ini semua bisa membelenggu target pertumbuhan kredit nasional. Intinya, target 22–23 persen itu agak sulit terwujud.
Manajemen Risiko
Akhir tutur, bank nasional harus menerapkan manajemen likuiditas dengan lebih tajam. Biasanya, manajemen likuiditas dilakukan setiap hari dan dipantau Unit Tresuri. Karena itu,Komite Aset dan Manajemen Risiko (The Asset and Liabilities Committee/ALCO) kian dituntut fungsi sentralnya.
ALCO berfungsi untuk memeriksa, mengawasi, dan memantau likuiditas secara menyeluruh dan posisi neraca bank. Untuk apa? Ini untuk mencegah potensi risiko likuiditas mengingat kebutuhan likuiditas bank yang makin terbang tinggi pada 2011.
Risiko likuiditas merupakan risiko ketika sebuah perusahaan atau bank tak mampu memenuhi komitmen finansial mereka kepada nasabah, kreditor, atau investor pada saat jatuh tempo.(*)
Paul Sutaryono
Pengamat Perbankan(Koran SI/Koran SI/ade)
Yah itu ttg dampak inflasi thd bank lg..
g punya ide unt buat makalah..msh berusaha unt bljr spreadsheet dgn benar..
OH goshh..help me..
No comments:
Post a Comment